Warisan di Balik Layar Radar
Lebaran 2026 terasa seperti frekuensi yang kehilangan sinyalnya.
Angka di kalender menunjukan 21 Maret yang semestinya menjadi perayaan ganda antara gema takbir dengan ucapan doa ulang tahun untuk laki-laki hebat yang kupanggil Bapak.
Semenjak 15 November 2023, radar itu berhenti. Kursi di ruang tamu itu kosong, tidak ada lagi sosok yang menonton tv sambil mendumal membahas politik. Meninggalkan sunyi yang lebih bising dari suara mesin motor yang biasanya mampir di halaman rumah kami.
Dunia mengenalnya sebagai sang Chief penjaga langit. Memikul ribuan nyawa di balik layar monitornya di Bandara Soekarno Hatta. Bapak ku sangat hebat! Jika dokter menyelamatkan nyawa di meja operasi atau ruang IGD, Bapak menyelamatkan nyawa di udara dalam jumlah yang masif sekaligus.
Namun bagiku, ia lebih dari sekedar pahlawan. Pahlawan yang memilih bersahabat dengan polusi Jakarta setiap hari. Bayangkan saja selama bekerja dari tahun 1997 sampai 2022, Bapak lebih memilih pulang-pergi menggunakan motor dari Depok - Cengkareng. Bukan karena ia tak mampu membeli kenyamanan, tapi karena ia sedang menukar setiap tetes keringatnya di atas motor tua itu dengan "tiket" masa depanku.
Bapak adalah ketulusan yang nyata bagi ku. Sosok yang begitu "pelit" pada dirinya sendiri.
Pakaian yang usang tak jadi soal, asalkan buku-buku dan tempat lesku tetap terbayar.
Tidak perlu makan enak, asalkan aku tidak pernah kesulitan dalam pendidikan.
Tidak perlu takut aku tersesat, Bapak akan menjemputku sejauh apapun itu.
Bapak tidak mewariskan harta yang nampak mata, ia mewariskan koordinat ilmu agar aku tak pernah tersesat dalam penerbangan hidupku sendiri.
Kini, semua letih itu ia bawa beristirahat. Kanker di seluruh tubuhnya sudah padam. Ayahku sudah menang, kembali ke pangkuan Tuhan dengan mengucap "Lailahaillallah".
Aku sendiri yang menjadi saksi deru nafas terakhirnya. Hari itu Rabu, 15 November 2023, tepat pukul 06.04 pagi di RS Dharmais. Waktu yang biasanya menjadi jam keberangkatan Bapak menembus aspal menuju Cengkareng. Namun pagi itu, Bapak tidak lagi bersiap dengan motor tuanya. Ia memilih rute penerbangan yang berbeda. Sebuah perjalanan panjang menuju keabadian di mana tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi lelah, dan tidak ada lagi debu jalanan.
Mungkin sekarang aku belum bisa membalasnya dengan membelikan baju baru atau mengajaknya makan enak di hari ulang tahunnya yang bertepatan dengan Lebaran ini. Namun, aku sedang berusaha membuktikan bahwa investasi 'pelit' ala Bapak pada diri sendiri tidaklah sia-sia. Dengan semua bekal yang sudah kumiliki, aku ingin Bapak tahu dari atas sana bahwa koordinat yang Bapak berikan sangat akurat. Aku tidak tersesat.
Terima kasih sudah menjaga udara, terima kasih juga sudah menjaga masa depanku dengan cara yang paling sunyi namun paling tangguh.
Selamat ulang tahun di surga, pahlawan hebat ku. Sampai bertemu kembali bersama-sama di surga Firdaus.



❤❤❤ nembus ke hati. I love you araaa
BalasHapus